Thursday, March 12, 2020

Stop Jadikan Buku Sebagai Narsistik Intelektual



Bagi penggemar buku mengoleksi buku jadi hal yang biasa. Mereka akan membeli buku sebanyak banyaknya dengan niat untuk dibaca. Akan tetapi, banyak dari mereka cuman menjadikan buku pajangan dan tumpukan.

Tsundoku 

Bagi yang pernah mendengar istilah sindrom tsundoku. Berasal dari bahasa jepang yang merupakan singkatan dari tsunde-oku artinya menumpuk dan dokusho artinya membaca. Hal tersebut merupakan sindrom dimana seseorang membeli buku tanpa membacanya.

Berbagai alasan diungkapkan oleh pelaku tsundoku untuk membenarkan kebiasaan mereka. Mulai dari alasan malas, tak ada waktu, sibuk kerja, sibuk main gadget. Apapun alasannya, buku yang telah dibeli tetap saja tidak dibaca.

Narsistik Intelektual

Namun  ada yang lebih parah dari sindrom itu adalah sindrom narsistik intelektual dengan buku sebagai objeknya. Ia menumpuk buku agar dapat disebut sebagai intelektual, tidak peduli apa dampaknya.

Narsisitik sejatinya merupakan penyakit psikologi dengan nama narscisstic personality disorder. Dimana seseorang begitu rasa percaya diri berlebihan dan rasa ingin dikagumi oleh orang lain. Kata narsis sendiri diambil dari legenda seorang yang dikutuk mencintai bayangnya dirinya sendiri.

Fenomena narsistik di sosial media kian memperparah hal ini. Ia membaca buku kemudian memajangnya di sosial media yang hanya untuk gaya -gayaan semata. Kadang juga hanya foto sampulnya yang dipajang. Namun, jika ditanya soal isi buku jawabannya kosong. 

Ada juga fenomena narsistik intelektual dengan menggunakan perpustakaan pribadi. Sengaja dipajang di ruang tamu biar terlihat oleh orang. Dimana perpustakan pribadi hanya jadi alat kebanggan pribadi agar disebut sebagai seorang terdidik dan Intelektual.

Bahaya yang paling besar adalah tidak termanfaatkannya buku tersebut. Setelah buku tesebut dipakai memuaskan rasa narsistiknya akan dibiarkan teronggok. Bisa jadi, ia jadi tidak terurus dan kehilangan manfaatnya yang begitu besar.

Perpustakaan Rantai

Perpustakaan Rantai adalah fenomena perpustakaan yang cukup tua. Anda dapat melihatnya pada gambar di atas, dimana buku diberi rantai agar tidak hilang atau diambil orang. Hal tersebut terjadi di masa ketika harga buku sangat mahal saat itu.

Tidak heran beberapa orang memberi bukunya sebuah rantai. Apalagi zaman itu buku dianggap sebagai barang yang cukup mewah. Dimana proses mencetaknya memakan waktu dan biaya tidak sedikit. Tidak seperti sekarang dimana kita dapat menemukan berbagai bacaan murah. 

Apakah Kita Seorang Intelektual ?

Kita perlu sering bertanya-tanya kepada diri sendiri, sudahkah buku-buku saya dibaca dan memberikan manfaat. Minimal manfaatnya adalah menghasilkan bacaan alias merangsang kita untuk menulis.

Kita juga harus lebih sering bertanya lagi, kita bangga disebut intelektual tapi apa karya kita sebagai intelektual ? Jangan karya kita tak berarti apa-apa, namun kita bangga setengah mati dan hanya memuaskan diri dengan karya tersebut.

Sumbangkan Saja

Jika hanya dijadikan pajangan untuk gaya-gayaan lebih baik disumbangkan saja. Begitu banyak orang-orang diluar sana membutuhkan buku-buku anda. Mereka kesulitan mendapatkan buku bacaan yang mungkin layak untuk mereka.

Apalagi nilai survey minat membaca Indonesia yang selalu saja jeblok. Indonesia selalu diidentikkan dengan warga yang malas membaca. Tidak heran masyarakat yang peduli membuka rumah baca dan perpustakaan kecil. Meskipun mereka kadang perjuangan mereka menghasilkan kegagalan mulai kekurangan buku, tidak mampu bayar sewa tempat dan sepi pembaca. Namun, mereka terus berusaha.

Oleh karena itu, bagi mereka yang hobi narsistik intelektual (termasuk penulis) dan kebetulan membaca tulisan ini. Saya amat menyarankan sumbangkanlah buku-buku anda. Jika anda tidak manfaat sama sekali hanya membiarkannya tertumpuk dan tinggal berdebu.

Penulis: Aru Akasa


Jangan Lupa Like FP kami: Meongeden.com
Jangan Lupa Komentar

No comments:

Post a Comment