Friday, February 21, 2020

Kasus Kamen Rider Hibiki: Salahkah Jika Toei Menjual Mainan?




Toei dikenal sebagai perusahaan yang bisa dibilang ahli dalam bidang tokusatsu. Hal ini tentunya tidak mengherankan karena mereka memegang dua tokusatsu besar yaitu Super Sentai dan Kamen Rider. Sebelumnya mereka dikenal membuat cukup banyak tokusatsu, namun satu persatu tidak dapat bertahan dan menghilang.

Mempertahankan keduanya juga bukan perkara mudah. Kamen Rider bisa dibilang hampir menghilang beberapa tahun lalu karena kekurangan dana. Super sentai sendiri sering dianggap sudah kekurangan konsep. Terutama karena mengulang-mengulang beberapa konsep yang sama beberapa kali. Sehingga konsepnya kadang  dianggap terlalu berulang, namun masih tetap bertahan.

Menjual Mainan

Bisa dibilang mainan tokusatsu begitu mempengaruhi rokusatsu hari ini. Super sentai bisa dibilang dapat bertahan karena konsepnya mudah dibuat mainan. Kamen Rider semenjak penjualannya cukup stabil, tidak ada lagi masalah pendanaan seperti di era showa dan awal era heisei. Sehingga masalah pendanaan bisa dibilang sudah teratasi.

Mainan yang dibuat berdasarkan tokusatsu sebelumnya hanya berupa action figure, baik karakter jahat atau baik. Hal ini biasanya yang menjadi salah satu pendanaan lewat merchandise, terkhusus mainan. Namun, seiring berjalannya waktu mulai dikembangkan berbagai bentuk mainan seperti belt, senjata, berbagai alat dan aksesori. Semakin hari, jumlahnya bisa dibilang semakin banyak jumlah dan jenisnya.

Apalagi produsen yang mengelola kedua mainan di atas adalah satu perusahaan yaitu, Bandai. Hal ini pula tidak jarang kita menemukan kesamaan konsep dari bentuk mainan dari keduanya. Tidak heran jika pendanaan kedua tokusatsu di atas tetap stabil dan mampu bertahan untuk memproduksi berpuluh-puluh episode. Tidak seperti serial tokusatsu lain.

Salahkan menjual mainan?

Salahkah Toei menjual mainan bersama bandai untuk mencari pendanaan?  Ini bisa dibilang pertanyaan yang cukup ironis dan menjadi bahan perdebatan. Terutama sejak menjual mainan konsep tokusatsu semakin fokus menjual mainan dengan jumlah dan variasi semakin banyak.

Kadang ada penggemar yang protes terhadap pengaruh ini. Terutama konsep tokusatsu yang kadang makin ke kanak-kanakan hanya untuk menjual mainan. Walaupun tentu saja beberapa penggemar sangat senang akan bertambahnya koleksi mainannya. Konsep tokusatsu juga memang makin fokus ke anak-anak sebagai konsumen utama, meski orang dewasa juga menonton. Hal ini kemudian menjadi sebuah hal dilematis dalam dunia tokusatsu.

Kasus Kamen Rider Hibiki

Bisa dibilang inilah kasus yang paling mengecewakan dalam sejarah serial Kamen Rider. Kasus yang  menunjukan keburukan Toei dalam mengelola serial ini benar-benar mengecewakan. Seolah-olah ini menjadi bukti kasus paling besar keserakahan Toei, bahkan sampai harus memaksa tim produksi untuk merubah konsep beberapa kali. Hal ini juga ditengarai berhubungan dengan penyingkiran Shigenori Takatera seperti yang saya bahas di artikel “Joe Odagiri Benci Tokusatsu atau Toei? Bagian 1” dapat dilihat pada link ini.

Shigenori Takatera, awalnya berencana menghidupkan kembali serial tokusatsu lama. Tokusatsu tersebut berjudul “Henshin Ninja Arashi” yang merupakan karya Shotaro ishinomori.yang tayang pada tahun 1972 dengan model utama ninja. Rencana awalnya, tokusatsu tersebut akan mengangkat judul “Henshin Ninja Arashi Prologue: Messenger of Shikigami” dengan kata prologue untuk memperjelas bahwa hal tersebut baru awal.

Namun, terjadi perubahan konsep, namun tetap memperahankan konsep ninja. Ia membuat judul baru “Bird Ninja Battle History: Hayate” dimana konsep utamanya adalah ninja vs yokai. Konsepnya ditambahkan dengan alat musik, disk binatang, pemburu iblis, serta konsep mentor dan murid.

Keinginan Bandai

Masalah timbul karena merek (klasik atau) baru tokusatsu tersebut sulit dijual. Sehingga Bandai yang bertanggung jawab terhadap merch dari pihak Toei berkeinginan merubah konsep tokusatsu tersebut. Bandai ingin menggantinya dengan merek “Kamen Rider” karena tentu saja lebih menguntungkan. Akibatnya jadilah Kamen Rider yang hampir-hampir benar-benar tidak sesuai.

Hal ini terjadi cukup terburu-buru dan menyisakan konsep Kamen Rider yang asal jadi dan dapat anda lihat di serial Kamen Rider Hibiki. Berubah tidak menggunakan belt, serangan utama bukan menggunakan rider kick, motor tidak menunjukan ciri ridernya, dll. Tidak heran banyak yang sadar bahwa Kamen Rider Hibiki bukanlah Kamen Rider.

Sebaliknya konsep mainan baru tercipta yaitu disk binatang. Disk binatang adalah alat di Kamen Rider Hibiki untuk mencari makamou atau monster di dunia Kamen Rider Hibiki. Biasanya terlihat mahluk kecil yang bergerak sendiri. Konsep ini dapat ditemukan di Kamen Rider lain, terutama untuk menambahkan banyaknya variasi mainan seperti Kamen rider Kabuto, wizard, Fourze, dll.

Hal ini benar-benar mengecewakan karena pengembangan tokusatsu tersebut harus terhambat. Hal ini sebenarnya tindakan sangat buru-buru. Padahal jika serius mengelola tokusatsu ninja ini, kemungkinan akan suksesnya cukup besar, Apalagi memang karena konsepnya berbeda dari Super Sentai dan Kamen Rider.

Sayang, penggemar tidak punya pengaruh untuk memperbaiki hal tersebut. Tidak salah Toei menjual mainan, jika tidak mengganggu konsep dari serial tokusatsu yang dikelolany. Hal ini benar-benar mengecewakan. Harapannya Toei dan Bandai belajar dari hal ini. Kalau perlu penggemar perlu protes, jika hal seperti ini terjadi.  

Penulis: Aru Akasa

Jangan Lupa Like FP kami: Meongeden.com

Jangan Lupa Komentar

No comments:

Post a Comment