Wednesday, November 13, 2019

Haruskah Kabinet Baru Kembalikan Wajib Baca Sastra dan Menulis ?

Kali ini, pak jokowi memilih menteri pendidikan yang benar-benar mencengangkan beberapa pihak. Pilihan yang dijatuhkan kepada nadiem makarim sang mantan bos dari gojek. Ia bukan seorang dosen apalagi professor yang biasanya diyakini sebagian orang, sebagai yang paling pantas menduduki jabatan menteri pendidikan dan kebudayaan.

Rakyat yang peduli dengan dunia pendidikan pastinya sudah bertanya-tanya dengan kebijakan yang dikeluarkan nadiem makarim selanjutnya. 100 hari pastilah jadi landasan selanjutnya menilai menteri ini. Tentunya beliau harus hati-hati karena salah kebijakan sedikit saja, hujatan dan kritikan pedas bakal melayang. Apalagi dari orang-orang sudah mengkritik pemerintah habis-habisan.

Bagi menteri pendidikan biasanya hal yang paling banyak disoroti itu adalah langkahnya dalam kurikulum. Biasanya akan banyak pendapat dan ide diajukan soal kurikulum yang efektif dan terbaik untuk rakyat. Namun, hampir sulit menemukan model kurikulum terbaik dan efektif tersebut.

Sebenarnya ada satu sistem kurikulum yang pernah diterapkan di Indonesia yang berhasil, bahkan sebelum Indonesia merdeka. Sistem yang disebut dalam tulisan taufiq ismail sebagai wajib baca sastra. Mungkin lebih lengkapnya disebut sebagai wajib baca sastra dan menulis. Sistem yang dijelaskan dalam tulisnya berjudul “tragedi nol buku, tragedi kita bersama.”

Sistem wajib baca sastra dan menulis adalah siswa diwajibkan membaca dan menuliskan tentang sebuah karya sastra. Hal ini dipraktekkan pada sekolah AMS yang merupakan sekolah belanda di jogja sebagai contohnya. Dimana siswa diwajibkan membaca buku sastra sebanyak 25 buku dalam 3 tahun dan ditambah menulis satu karangan dalam satu minggu.

Perlu digaris bawahi, tujuan membaca sastra dan menulis disini bukan untuk menjadi sastrawan. Hal ini bertujuan agar siswa saat itu terbiasa membaca dan menulis. Keindahan sastra diharapkan menjadi penarik dari minat membaca. Menulis setiap minggu tentunya agar mudah menulis, terutama mengungkapkan pikiran lewat tulisan.   

Jika seandainya pun tidak jadi sastrawan, mereka dapat menulis dan membaca dengan lancar. Kemampuan menulis dan membacanya yang tentunya amat berguna bagi setiap pekerjaan dan profesi. Tidak seperti sekarang, sudah malas membaca dan tulisannya juga kadang hasil plagiat dengan copy paste sana-sini. Hal ini tentu saja karena sistem pendidikan yang tidak membiasakan membaca dan menulis.   

Beliau selalu menunjukan bukti keberhasilan sistem tersebut dengan orang-orang yang telah mengecapnya di zaman perjuangan. Terbukti dengan dua orang founding father indonesia, soekarno dan Hatta. Mereka menjalani sistem tersebut, namun tidak menjadi sastrawan. Soekarno menjadi ahli politik dan hatta menjadi ahli ekonomi.

Nuansa sastra juga dapat dirasakan dari judul buku soekarno dan hatta. Kita mendapati autobiografi soekarno yang ditulisnya bersama cindy adams diberi judul “penyambung lidah rakyat” bukan “autobiografi soekarno”. buku karya bung hatta tentang kebijakan non blok indonesia diberinya judul “mendayung antara dua karang” bukan diberi judul “kebijakan non blok Indonesia”.
Aneh bin ajaib, sistem ini ternyata tidak dipertahankan oleh Indonesia setelah merdeka. Taufiq ismail mensinyalir bahwa sistem ini dihilangkan pada awal tahun 1950. Alasannya karena waktu itu pembangunan mulai difokuskan pada bidang eksakta.

Taufiq ismail juga sempat melaporkan hal tersebut pada tahun 1997 pada menteri kebudayaan dan pendidikan di kabinet soeharto, yaito wardiman joyonegoro, namun tidak ada perubahan. Akhirnya hingga saat ini sistem tersebut tidak diadopsi kembali. Walaupun, sebenarnya sistem tersebut masih dapat diterapkan pelajaran bahasa Indonesia yang terdapat dalam mata pelajaran sekolah.

Salah satu hal yang sulit bagi kembalinya sistem ini adalah munculnya rezim linguistik yang juga dipermasalahkan oleh taufiq ismail. Linguistik bisa dibilang telah mendominasi pelajaran bahasa indonesia dan meminggirkan pelajaran sastra.

Linguistik menjadi bagian eksakta dalam bahasa indonesia. Bagaimana tidak. kita harus menggunakan bahasa indonesia harus sesuai rumusan dan aturan. Tidak heran isi rezim linguistik terdiri dari mempelajari ejaan, sisipan, awalan, akhiran dan tata bahasa. 

Jika kita menghitung porsi mempelajari linguistik di kurikulum bahasa indonesia saat ini, maka kita akan menemukan porsinya sangat besar dan mendominasi. Mulai dari sd sampai perguruan tinggi, kita pasti dapat merasakan dominasinya.

Berdasarkan pengalaman pribadi, manfaat dari mempelajari linguistik terasa sangat kurang. Saya sampai sekarang melupakan semua teori ejaan, awalan, akhiran dan sisipan yang dulu. Kalau menulis pun, biasanya bukan berdasarkan teori dari buku, tapi praktek pada literatur yang sering dibaca.

Ingatan soal materi ejaan dan tata bahasa sulit untuk melekat di ingatan saya, tapi berbeda dengan beberapa karya sastra. Saya masih ingat kesan ambiguitas makna dari puisi aku yang saya baca saat smp dan hampir hapal semua bait, meskipun bukan penggemar sastra. Karya lain sastra yang begitu berkesan adalah kisah wayang versi Putuwijaya yang kocak dan tidak sesuai naskah aslinya dalam buku berjudul “perang”. Apalagi setelahnya saya membaca kisah wayang durangpo karya dalang sujiwo tejo.  

Linguistik juga kadang terasa amat menghambat, apalagi ketika baru belajar menulis. Saat menulis terasa harus benar-benar sesuai dengan linguistik, terutama eyd. Sehingga, kadang menulis terasa sangat tersendat-sendat, bahkan dihantui rasa takut menulis karena khawatir akan kesalahan.

Rezim linguistik selain menggerus materi pelajaran sastra, juga menggerus pembelajaran menulis. Hingga saat ini, pembelajaran bahasa indonesia sangat jarang melakukan praktek menulis. Biasanya pelajaran menulis dilakukan dalam bentuk mengarang pada waktu tertentu saja, misalnya waktu setelah liburan sekolah atau pada pembahasan materi sastra.

Lebih aneh lagi sistem menulis jawaban dari soal atau yang biasa disebut esai semakin berkurang. Berganti dengan sistem pilihan ganda yang mengurangi kebiasaan menulis. Tidak heran siswa hari ini begitu jarang menulis dan sangat kesulitan saat mendapat tugas menulis.

Pada akhirnya, tidak ada tanda-tanda kembalinya sistem ini. Meskipun begitu, pada akhir tulisannya Taufiq Ismail terlihat masih berharap dengan penggalan puisinya. Puisi berjudul “kupu-kupu di dalam buku” mengakhiri tulisan tersebut. Kadang jika saya baca puisi itu, beberapa teman malah berkata “puisi itu bukan bicara soal Indonesia. Mungkin bicara soal jepang atau Finlandia”, biasanya dilakukan sambil tertawa mengejek.

Oleh karena itu, harapan saya besar, jika ada yang menyampaikan sistem yang pernah berjaya ini kepada pak menteri nadiem makarim. Ini bisa jadi sebuah gebrakan besar dalam dunia pendidikan Indonesia. Kalau ada yang berani mengkritik, kebesaran Soekarno dan Hatta bisa langsung menyumpal mulut mereka.  

Sumber gambar:
M.inilah.com 

No comments:

Post a Comment