Saturday, September 7, 2019

Pahamkah Anda Soal Tragedi Nol Buku? (Bagian 1: Baca Buku Wajib Sastra)


Tamparan tanpa wujud paling sakit yang pernah saya rasakan adalah ketika membaca tragedi nol buku. Sebuah tulisan karya taufik ismail yang membahas tentang minat baca indonesia yang sungguh memprihatinkan.

Beliau mengungkapkan dalam tulisannya ada dua fondasi dalam pelajaran sastra yang hilang. Pertama, wajib baca buku sastra. Kedua, kebiasaan mengarang yang sangat minim (dibahas pada bagian yang lain). Dua fondasi tersebut diharapkan mendorong minat baca yang tinggi.

Wajib baca buku sastra merupakan salah satu fondasi yang tidak disadari. Mengapa? Terutama karena orang menganggap mereka yang membaca buku sastra haruslah menjadi sastrawan. Ada juga yang mungkin menganggap karya sastra adalah hiburan dan bukanlah sesuatu yang serius.

Padahal ada bukti yang sangat menarik. Wajib baca buku sastra merupakan kurikulum yang diadopsi beberapa negara termasuk kolonial belanda. Beberapa tokoh tentu saja pernah mendapat pendidikan tersebut.

Sang proklamator soekarno dan hatta bisa dijadikan contoh. Sebagaimana ditulis dalam tragedi nol buku mereka berdua membaca karya sastra. Akan tetapi, tak berakhir sebagai sastrawan. Bung hatta lebih suka ekonomi dan mengembangkan konsep koperasi. Bung karno jadi politikus handal sebagaimana kita kenal sekarang.

Mungkin banyak yang tidak sadar kalau karya sastra masih memiliki jejak pada tulisan sang proklamator. Soekarno dengan buku penyambung lidah rakyat yang dikarang dengan model wawancara dengan cindy adam. Buku mendayung diantara dua karang karya bung hatta, lebih tepatnya tentang beberapa pidatonya.

Perhatikan baik-baik judulnya ditulis dengan pengkiasan khas sastrawan dan tidak menunjukan maksud langsung dalam judulnya. Penyambung lidah rakyat tidak langsung ditulis biografi soekarno. Buku mendayung diantara dua karang tidak langsung ditulis pidato tentang dasar politik luar negeri indonesia.

Mengapa? Tentu saja karena nuansa sastra dalam pengkiasan terdengar lebih indah.
Keindahan kata dalam karya sastra inilah yang menjadi penarik minat baca. Jika sudah terbiasa membaca buku sastra tebal. 

Kemungkinan akan mudah membaca buku-buku lainnya, terutama buku ilmiah yang serius. Ini juga saya buktikan sebagai pengalaman pribadi dan hasil pengamatan dari mereka penggemar buku sastra. Masalah lain dari baca wajib sastra adalah materi pembelajaran bahasa indonesia yang sudah mengarah ke rumus linguistik. 

Tidak heran taufik ismail menggugat pelajaran sastra tapi rasanya belajar rumus fisika. Menikmati keindahan sastra tertutupi dengan usaha menghafalkan rumus-rumus tersebut dalam bentuk pelajaran ejaan. Biasanya diatur dalam PUEBI (pedoman umum ejaan bahasa Indonesia). 

Apalagi pelajaran ejaan sebagai bagian utama dari linguistik biasanya porsinya sangat besar dalam kurikulum bahasa indonesia. Jujur saya pribadi (penulis) tidak merasakan dampak signifikan dari belajar ejaan. Sedikit sekali pelajaran tersebut yang tertinggal di benak. 

Sejak kecil juga, saya tidak memahami pelajaran tersebut sehingga minim. Baru setelah kuliah dan belajar tentang ejaan atau puebi kembali, terutama untuk karya tulis ilmiah. 

Oleh karena itu, saya mengharapkan setelah membaca ini. Kembali masyarakat indonesia peduli dengan sistem klasik, tapi asyik ini. Harapan agar keasyikan membaca sastra kembali mendorong orang mencintai membaca buku.
Sumber:

Dari pasar djohar ke djalan kedjaksaan karya taufik ismail
Pengalaman pribadi

Sumber gambar:
Website bookcollecting101





No comments:

Post a Comment