Friday, September 13, 2019

Pahamkah anda soal tragedi nol buku? (Bagian 2: pelajaran mengarang)


Satu bagian lain yang mendapat cukup banyak porsi protes dari taufik ismail dalam tragedi nol buku adalah pelajaran mengarang. Dimana ia merupakan bagian dari pembelajaran sastra. Secara khusus pelajaran mengarang yang dimaksud adalah mengarang  
Pada bagian sebelumnya telah dijelaskan tentang membaca wajib karya sastra. Dimana karya sastra tersebut. Ternyata tidak hanya dibaca sampai tamat tapi diwajibkan menulis tangganggapan terhadapnya.

Taufiq ismail begitu kecewa dengan budaya mengarang indonesia yang sangat sedikit. Beliau bahkan membandingkan dengan shalat idul fitri yang cuman sekali setahun. Padahal latihan mengarang merupakan latihan yang penting untuk menulis.

Hal yang cukup mengagetkan adalah perbandingan pelajaran mengarang zaman modern dan belanda. Anak Ams atau sekolah sma zaman kolonial belanda yang latihan mengarangnya saja ada sekali dalam seminggu dan kira -kira 36 kali dalam setahun menurut beliau. Tidak heran mereka sangat mudah menulis saat menempuh universitas.

Bandingkan sekarang dimana begitu sulitnya seorang mahasiswa menulis. Makalahnya kadang isinya copy paste karena tak bisa menulis dengan kata-kata sendiri. Ada juga yang tak mampu menulis skripsi dan menutupi dengan membeli skripsi. Benar-benar kejadian miris. 
Kembali lagi kepada kurikulum bahasa indonesia yang sebagian besar berisi pelajaran linguistik. Pembelajaran yang mengedepankan menghafal ejaan dalam bentuk rumus-rumus seperti ilmu pasti. Sehingga hampir saja keindahan sastra tidak lagi diajarkan dalam bahasa indonesia. Jadi wajar jika beliau menyebutnya rezim linguistik.

Dalam makalah tersebut beliau merekomendasikan sastra yang asyik, nikmat dan gembira. Bukan sastra yang diajarkan seolah memahami buku fisika yang penuh aturan, rumus dan definisi. Pelajaran yang seolah mengekang, sehingga tidak heran mereka kesulitan memahami keindahan sastra.   

Ketika merekomendasikan cara belajar menulis, saya tidak merekomendasikan sama sekali langsung belajar Puebi. Akan tetapi, saya sarankan untuk belajar menulis bebas tanpa aturan dan menulis fiksi dahulu.

Menulis fiksi penuh dengan kebebasan tanpa perlu terjebak dengan kenyataan. Apalagi fiksi fantasi yang memang kadang tak membutuhkan sama sekali aturan dunia nyata. Ditambah dengan panjang yang tidak lebih dari satu halaman. Sehingga mereka yang baru belajar menulis dapat menulis dengan mudah.

Bandingkan jika anda harus menulis karya ilmiah lengkap dengan kesesuain puebi. Pasti akan sangat kesulitan dengan berbagai aturan berat yang harus dipenuhi. Walaupun ada yang mampu dan ada yang menyerah karena sulit.   

Oleh karena itu, meskipun sulit untuk mengembalikan sistem lama tersebut ke sekolah modern. Orang tua, guru dan mereka yang peduli dengan pendidikan bisa mendorong kebiasaan mengarang kepada murid, anak dan diri mereka sendiri.

Saya sangat menyarankan membaca tulisan beliau taufik ismail dari pasar djohar ke djalan kedjaksaan. Tulisan tersebut penuh dengan hal penting yang mungkin dapat membantu merancang pendidikan indonesia di masa depan.
Sumber:

Dari pasar djohar ke djalan kedjaksaan karya taufik ismail
Pengalaman pribadi

Sumber gambar:
Lukisan Writing lesson karya pierre auguster renoir

No comments:

Post a Comment